Minggu, 25 Agustus 2019


KELOMPOK 11

Membina Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Dalam Melaksanakan Disiplin Sekolah

           A.    Pengertian Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah. Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

          B.    Jenis-Jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
1.    Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.

2. Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.

3. Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

              C.   Faktor Pendukung Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bisa berjalan baik apabila di dukung oleh beberapa faktor yakni:
1.      Adanya program dan perencanaan yang sistematis.
2.      Tersedia basis dokumentasi yang lengkap.
3.      Tersedia tenaga ahli, terampil dan alat sarana serta dana yang memadai.
4.    Kondisi organisasi sekolah yang memungkinkan untuk meningkatkan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.

           D.   Membina Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Sekolah secara formal adalah wadah atau tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyrakat dimana sekolah itu berada. Sebaliknya, masyarakat diharapkan membantu dan bekerja sama dengan sekolah agar program sekolah berjalan lanacar dan lulusan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakat dan negara. Oleh sebab itu, hubungan yang saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan secara harmonis. Hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan instansi terkait, hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat, dan hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya. 

            1.   Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
Hubungan sekolah dengan orang tua dapat dijalin melalui sarana wadah perkumpulan orang tua siswa, guru atau tenaga kependidikan lainnya dinamakan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan. Dengan adanya hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharakan diperoleh adalah:
a.      Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
b.      Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
c.   Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.

             2.  Hubungan sekolah dengan Instansi terkait
Sekolah perlu membina hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait, instansi terkait itu seperti Lurah/ Kepala Desa, Puskesmas, Camat, Polsek, Koramil, LKMD, dan Posyandu. Hubungan yang dijalin dan upaya yang perlu dilaksanakan oleh sekolah, antara lain sebagai berikut:
dari pihak instansi terkait diharapkan agar membrikan peran sertanya dalam:
a.       Membantu tegaknya disiplin sekolah,
b.      Ikut membantu terpeliharanya kebersihan dan keindahan sekolah,
c.       Membantu nama baik sekolah,
d.      Memenuhi undangan yang disampaikan pihak sekolah,
e.  Membantu keamanan sekolah pada saat sekolah melaksanakan kegiatn-kegiatan tertentu.

             3.  Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat
Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat adalah hubungan yang tidak kalah pentingnya dengan jalinan hubungan dengan pihak lainnya. Program ini dapat dilaksanakan dalam bentuk:
Sedangkan dari dunia usaha dan tokoh masyarakat yang berhasil diharapkan peran serta sebagai berikut:
a.   Bersedia menjadi narasumber dan memebrikan ceramah untuk siswa sebagai usaha memotivasi siswa supaya giat belajar dan bekerja keras,
b.      Memberikan saran dalam menegakkan wibawa Kepala Sekolah dan Guru,
c.       Menjadi narasumber untuk pelaksanaan program muatan lokal skeolah,
d.   Membantu dan menyediakan fasilitas dalam melaksanakan, muatan lokal bagi para siswa.

              4.  Hubungan sekolah dengan Lembaga Pendidikan lain
Dalam usaha membina dan megembangkan hubungan dengan lembaga pendidikan lain perlu dilaksanakan upaya-upaya berikut:
a.       Mengadakan kunjungan antar sekolah untuk saling bertukar pengalaman,
b.   Menjalin kerjasama dalam upaya saling mengembangkan pendidikan di sekolahnya masing-masing,
c.  Memberikan informasi tentang perkiraan jumlah lulusan sekolah kepada lembaga pendidikan setingkat diatasnya,
d.  Mengundang pimpinan lembaga pendidikan yang lebih tinggi tingkatnya untuk memberikan ceramah tentang perkembangan pendidikan sesuai jenjangnya.




RINGKASAN MATERI KEL  10

Tentang
Menciptakan Suasana Yang Efektif


A.    Tujuan Pengelolaan Kelas Yang Efektif
Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Mutu pembelajaran aka tercapai, jika tercapainya tujauan pembelajaran.
Karakter kelas yang dihasilkan karena adanya proses pengelolaa kelas yang baik akan memiliki sekurang-urangnya tiga ciri, yakni:

a.         Speed, artinya anak dapat belajar dalam percepatan proses dan progres, sehingga membutuhkan waktu yang relatif singkat.
b.         Simple, artinya organisasi kelas dan materi menjadi sederhana, mudah dicerna dan situasi kelas menjadi kondusif.
c.         Self-confidence, artinya anak dapat belajar dengan kondisi yang penuh rasa percaya diri atau menganggap dirinya mampu mengikuti pelajaran dan belajar berprestasi.

B.     Cara Membuat Kelas Kondusif dan Tenang

1.      Menerapkan metode/model pembelajaran yang bervariasi.
Kelas yang kondusif sangat dipengaruhi oleh "MOOD" siswa untuk mengikuti pelajaran, metode pembelajaran yang monoton dan itut-itu saja membuat siswa merasa jenuh dan bosan maka dari alangkah baiknya dalam mengajar cobalah beberapa model/metode pembelajaran yang meyenangkan agar siswa menjadi lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga perasaan bosan  mengikuti pembelajaran bisa diminimalisir.

2.      Menjadi guru yang tegas
Biasanya suasana belajar tidak kondusif disebabkan oleh guru yang kurang tegas terhadap anak didiknya sehingga siswa kebanyakan bermain-main atau melakukan aktivitas lain sementara gurunya sibuk menjelaskan. Alngkah baiknya seorang guru memiliki ketegasan agar murid lebih menghargainya, tegas bukan berarti keras  namun lebih tepatnya memiliki soul inside atau kharisma sehingga murid lebih segang untuk melakukan hal yang kurang baik saat belajar.
3.         Menyepakati aturan bersama
            Langkah selanjutnya yang bisa anda coba untuk mengatasi kelas yang tidak kondusif adalah membuat aturan bersama siswa, misalkan aturan tata tertib, perilaku dan lain-lain hal ini bertujuan agar siswa tidak melakukan sesuatu yang diluar batas wajar. untuk hukuman jika melanggar aturan yang telah disepakati bersama bisa dengan memberikan hukuman yang mendidik seperti, membersihkan ruang kelas, hafal perkalian.

4.      Menjadi guru yang menyenangkan
             Membangun komunikasi yang baik, menganggap siswa sebagai anak sendiri, mendengarkan keluh-kesah siswa, minta saran dan pendapat dari siswa adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar disenangi oleh siswa. Kurangi sikap otoriter dalam belajar dan berusahalah menjadi guru yang dirindukan oleh siswa anda.

5.   Atur posisi duduk siswa sebaik mungkin
            Cara Membuat Kelas Kondusif dan Tenang adalah mengatur posisi duduk siswa sebaik mungkin. Posisi duduk siswa bisa juga menjadi penyebab kelas menjadi kurang kondusif, anda bisa merotasi tenpat duduk siswa, anda juga bisa menempatkan anak yang nakal dan suka menganggu temannya di posisi depan agar bisa diawasi. sekali-kali model tempat duduk juga bisa dirubah sperti model tapal kuda, model diskusi, model berhadapan.

6.   Mendesain kelas agar nyaman
           Cara Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah mendesain kelas agar nyamanKelas yang pengap, sempet, berdebu, kotor, bau dan sirkulasi udara yang kurang baik bisa menjadi penyebab pmebelajaran menjadi kurang kondusif. Maka dari itu usahakan agar kelas bisa menjadi ruangan yang sejuk dengan desain yang indah agar siswa merasa betah berada di kelas, selain itu anda bisa menpercantik kelas anda dengan memajang media-media pembelajaran yang bervariasi di dinding kelas

7.   Biarkan siswa berkereasi
           Cara Membuat Kelas Kondusif Dan Tenang adalah dengan memberi kesempatan pada siswa untuk berkreasiGuru adalah fasilitator, motivator, katalisator dan mediator. Guru tidak boleh otoriter dan menguasai pembelajaran namun biarkan siswa yang lebih berkreasi. bukan teacher center melainkan student center, guru memposisikan diri sebagai media, pengarah, motivator.

8.   Belajar diluar ruangan
           Mungkin persepsi kita selama ini tentang kelas agar keliru, sebagian mengartikan kelas sebagai tempat belajar padahal hal tersebut kurang tepat karena arti kelas adalah rombongan belajar. Misalkan kelas I artinya rombongan belajar tingkat pertama. jadi ajaklah siswa anda belajar diluar ruangan biarkan mereka belajar secara kontekstual dan bermakna.

9.   Memberi nasehat.
            Nasehat adalah cara yang bijaksana untuk menyentuh hati siswa agar mau berubah menjadi lebih baik, ajaklah atau tenangkan suasana kelas kemudian berikan nasehat yang bisa membuat siswa menjadi sadar akan tugasnya sebagai siswa. Dengan nasehat yang tepat dan baik akan membuat siswa akan sadar sendiri dengan tugas dan tanggung jawabnya sehingga lebih bersungguh-sunggu untuk mengikuti pelajaran.

10.   Bercanda
             Agar pembelajaran  bisa menyenangkan, terlalu serius juga kurang baik sebaiknya diselingi beberapa candaan lebih tepatnya candaan positif. Dengan menyelingin pembelajaran dengan sedikit candaan maka suasana pembalajaran tidak menjadi tegang dan tidak kakuh sehingga siswa lebih nyaman dalam belajar.


RINGKASAN MATERI KEL  9

Tentang
Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas


A.    Tindakan Preventif dalam Pengelolaan Kelas

Tindakan preventif dalam pengelolaan kelas merupakan pencegahan terhadap perilaku menyimpang.1 Menurut J.J Hasibuan, yang dimaksud dengan tindakan preventif dalam pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dengan tujuan untuk mencegah timbulnya perilaku yang mengganggu kegiatan belajar.

 Tindakan preventif merupakan langkah awal yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas itu sendiri adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.

 Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa dalam setiap proses pembelajaran seorang guru harus telah merencanakan dan mengusahakan kondisi-kondisi yang memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran. Agar terhindar dari kondisi yang merugikan dan mengkibatkan tidak akan tercapainya tujuan pendidikan maka seorang guru haruslah melakukan suatu usaha. Usaha yang dilakukan tersebut adalah tindakan pencegahan/tindakan preventif.
Tujuan dari pelaksanaan tindakan priventif ini adalah untuk menciptakan kondisi pembelajar yang menguntungkan. Dimensi pencegahan dapat berupa tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan dan lingkungan sosio emosional.

a.       Kondisi dan situasi pembelajaran
1)      Kondisi fisik
Kondisi fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil perbuatan belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses perbuatan belajar peserta didik dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran.
 Lingkungan fisik yang dimaksud adalah:
a)      Ruangan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran Ruangan tempat pembelajaran harus memungkinkan untuk siswa bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak saling mengganggu antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya. Besarnya ruangan kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain:
(1)     Jenis kegiatan, apakah kegiatan pertemuan tatap muka dalam kelas ataukah kerja di   ruang praktikum.
(2)     Jumlah peserta didik yang melakukan kegiatan- kegiatan bersama secara klasikal secara relatif membutuhkan ruangan rata-rata yang lebih kecil perorang bila dibandingkan dengan kebutuhan ruangan untuk kegiatan kelompok. Jika ruangan tersebut mempergunakan hiasan, pakailah hiasan- hiasan yang mempunyai nilai pendidikan yang dapat secara langsung mempunyai ‘daya sembuh” bagi pelanggaran disiplin. Misalnya dengan menempelkan pajangan dengan kata-kata baik, anjuran, dan sebagainya.Mengenai masalah ukuran kelas ini, berdasarkan hasil penelitian Pilkington terhadap siswa sekolah dasar dan menengah, jauh dari jumlah anak didik yang ideal menurut kesepakatan para ahli. Kebanyakan mereka menyepakati bahwa ukuran kelas yang ideal adalah terdiri dari 24 siswa.

b)   Pengaturan tempat duduk
            Hal yang terpenting dalam pengaturan tempat duduk ini adalah memungkinkan terjadinya tatap muka sehingga dengan itu guru juga sekaligus bisa memperhatikan tingkah-laku peserta didik. Dalam pengaturan tempat duduk, sebaiknya ukuran tempat duduk siswa itu jangan terlalu besar agar mudah diubah-ubah formasinya.

c)    Ventilasi dan pengaturan cahaya
            Ventilasi harus cukup untuk menjamin kesehatan peserta didik. Udara yang sehat akan cukup apabila ventilasinya baik, sehingga semua peserta didik bisa menghirup udara segar yang cukup mengandung oksigen. Jendela dalam ruangan juga harus bisa menjamin cahaya matahari masuk ke dalam ruangan, sehingga peserta didik bisa melihat tulisan dengan jelas, baik tulisan di papan tulis, di buku catatan dan sebagainya. Cahaya sebaiknya datang dari sebelah kiri, cukup terang, akan tetapi tidak menyilaukan bagi peserta didik.

d)   Pengaturan penyimpanan barang-barang
            Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan dalam ruangan kelas seperti buku palajaran, pedoman kurikulum dan sebagainya hendaknya disimpan dengan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan peserta didik.

2)       Kondisi sosio-emosional
              Suasana sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses pembelajaran, kegairahan peserta didik merupakan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran.

3)      Kondisi organisasional
             Kegiatan rutin yang secara organisasional yang dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah dalam pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Disamping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu
B.     Tindakan Kuratif dalam pengelolaan kelas
Kegiatan yang bersifat penyembuhan mengikuti langkah sebagai berikut :
a.      Mengidentifikasi masalah
Pada langkah ini, guru mengenal atau mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.

b.       Menganalisis masalah
Pada alngkah ini, guru menganalisi penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.

c.       Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Pada langkah ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam menanggulangi masalah.

d.      Mendapatkan balikan
Pada langkah ini guru melaksanakan monitoring, dengan maksud menilai keampuhan pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yng sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilas balik ini dapat dilaksanankan dengan diadakan pertemuan dengan para peserta didik. Maksud pertemuan perlu dijelaskan oleh guru sehingga peserta didik mengetahui serta menyadari bahwa pertemuan diusahakan dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.






Daftar Rujukan


Syaiful Bahri Djamarah, 1994, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional, h. 90.

J.J Hasibuan, Op.Cit., h. 179.



RINGKASAN KELOMPOK 8

Tentang
Prinsip-Prinsip Disiplin Kelas


   A. Sumber Pelanggaran Disiplin Dalam Kelas
              Asumsi yang menyatakan bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya untu mencapai tujuan yaitu pmenuhan kebutuhan. Pengenalan terhadap kebutuhan peserta didik secara baik merupakan andil yang besar bagi pengendalian disiplin

               Pada hakekatnya sebab-sebab pelanggaannya itu sangat unik, bersifat sangat pribadi, kompleks,  dan kadang-kadang mempunyai latar belakang yang mendalam lain dari sebab-sebab yang tampak. Walaupun demikian memang ada juga yang sebab-sebab bersifat umum misalnya:
1.      Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelangaran disiplin mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan hanya itu ke itu saja. Harus diusahakan agar peserta didik tetap sibuk dengan kegiatan bervariasi sesuai dengan taraf perkembangannya.
2.      Perasaan kecewa dan tertekan karena peserta didik dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai remaja.
3.      Tidk terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengenalan, atau status. 

B.     Peraturan dan Tata Tertib Kelas
Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya

1. Sebelum pelajaran dimulai
a.       Setelah lonceng berbunyi tanda pelajaran dimulai, peserta didik berbaris di depan kelasnya,   kemudian guru mempersiapkan mereka amsuk kelas dengan tertib.
b.      Pelajaran pertama didahului dengan doa pembukaan menurut agama atau kepercayaan masing-masing.
c.       Peserta didik yang datang terlambat harus melaporkan diri terlebih dahulu kepada pemimpin sekolah sebelum mengikuti pelajaran.
d.      Guru hendaklah mengadakan pencatatan terhadap peserta didik yang hadir (persen), tak hadir (absen), dan ayng datang terlambat pada papan presentasi kelas dan daftar presentasi kelas.

2.        Selama Pelajaran Berlangsung

a.    Sebelum pelajaran dimulai diadakan doa
b.    Peserta didik harus mengikuti pelajaran dengan seksama.
c.    Peserta didik diperkenankan mengemukakan pendapat atau bertanya tentang pelajaran yang diterangkan, bila tidak mengerti.
d.   Peserta didik tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan lain, selain pelajaran yang bersangkutan.
e.    Peserta didik tidak boleh meninggalkan kelas tanpa seizin guru
f.     Bila ada sesuatu kepentingan, peserta didik diperbolehkan meningalkan pelajaran dengan seizin guru yang bersangkutan dan sepengetahuan kepala sekolah.
g.    Peserta didik dilarang makan atau meroko selama pelajaran berlangsung.
h.    Peserta didik wajib ikut serta memelihara kebersihan dan ketertiban kelas.
i.      Peserta didik harus bersikap sopan atau hormat terhadap guru.

3.    Selama Waktu Istirahat
           a.  Pada waktu istirahat, peserta didik tidak diperbolehkan tinggal di dalam 
               kelas.
           b. Pada waktu istirahat peserta didik hendaklah memanfaatkannya untuk 
              beristirahat.
          c. didik tidak boleh meninggalkan lingkungan sekolah tanpa seizin sekolah.

4.    Sesudah Pelajaran Berakhir
a. Sesudah pelajaran berakhir, hendaklah segera diadakan pergantian pelajaran berikutnya.
b.Peserta didik hendaknya memberikan hormat kepada guru yang akan meninggalkankelas.
c.   Sebelum guru meninggalkan kelas, perlu mengiis daftar presensi kelas.
d. Sesudah pelajaran terakhir diadakan doa penutup dn kemudian baru diperbolehkan pulang.
e.  Sebelum pulang peserta didik harus meneliti tempatnya, agar tidak ada barang yang ketinggalan.

5.    Selama Pelajaran Berlangsung
a.       Dalam mengikuti pelajaran peserta didk harus berpakaian sopan, bersih, dan rapi.
b.     Dalam mengikuti pelajaran peserta didik harus lengkap dengan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan.
c.       Dalam mengikuti pelajaran
d.    Peserta didik yang berhalangan mengikuti pelajaran (karena sakit dan sebagainnya) supaya menyampaikan surat “keterangan berhalangan” kepada pipinan sekolah melalui guru/wali kelas yang bersangkutan.
e.  Permohonan izin (karena sesuatu kepentingan) supaaya disampaikan sebelumnya, bukan sesudahana.




Daftar Rujukan

Rohani Ahmad. 2004.Pengelolaan Pengajaran.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Muliyani, Azis. 2012. Disiplin kelas di Sekolah Dasar. 

Rachman, Maman. 1997. Manajemen Kelas. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar